Panggung

Halo… akhirnya setelah sekian lama libur nulis blog pribadi, akhirnya ada waktu dan kesempatan buat nulis nih.. Semoga kedepan bisa lebih rutin nulis lagi. Hihihi… udah ah basa basinya, ntar jadi basi :p

Tulisan kali ini aku mau bahas soal panggung. Kenapa bahas panggung? Salah satunya karena beberapa waktu lalu dapet kesempatan sharing lagi setelah sekian lama ‘istirahat’.

Hmm… sebelum ceritanya kemana-mana, aku mau cerita dulu lah, mungkin ada yang udah tahu, mungkin juga ada yang belum. Jadi, awal aku punya kesempatan ‘naik panggung’ itu waktu jaman kuliah, jaman masih aktif di sebuah organisasi. Kebetulan organisasi lagi mau mengadakan seminar, tema yang diangkat sama dengan apa yang sedang aku pelajari saat itu, tepatnya tentang internet marketing. Bisa dibilang modal nekat waktu itu, karena pengisi acara utamanya adalah orang yang jauh lebih berpengalaman. Yang ada dipikiranku waktu itu, dengan menjadi pengisi acara tentu aku mesti belajar lebih. Berikutnya, dengan begitu aku dapat lebih dekat dengan pengisi acara yang lain, ini kesempatanku untuk bertanya dan menyerap ilmu mereka. Panggung pertama pun berhasil, rasa senang berbagi pun mulai muncul.

Setelah itu, rasa senang ketika sharing pun makin besar. Seiring aku terus belajar, kesempatan untuk panggung-panggung berikutnya pula berdatangan. Kesempatan ini tentu aku ambil, ini kesempatan untuk aku memaksa diri terus belajar dan semakin banyak melihat wajah-wajah senang telah mempelajari sesuatu baru dari yang aku sampaikan. Hingga aku pribadi punya makna sendiri terhadap panggung, ia adalah ruang dimana aku dapat berbagi apa yang aku tahu, diruang itu pula aku mendapat kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan uang. Ini pula yang membuat kesempatan berbagi meski tak mendapat ‘bayaran’ sering kuterima.

Dari panggung, aku pun punya ruang menyampaikan gagasan-gagasan yang ada dipikiranku. Bahkan keresahan terhadap sebuah kondisi, pesan untuk kebaikan sering aku sematkan di tiap kesempatan sharing. Dari banyak orang pun aku belajar, semua orang butuh panggung. Bukan panggung sebagai media memperoleh ketenaran atau kepopuleran, namun lebih kepada panggung untuk mendapat ruang. Ruang ini tentu berbeda-beda bagi tiap orang, ini yang aku yakini. Seperti pula dengan tujuan orang untuk mendapat panggungnya, maka naif bila ada yang menyamakan tujuan tiap orang.

Aku pribadi memilih tidak sibuk menilai orang lain dengan panggung orang lain. Biarkan saja mereka dengan tujuan masing-masing, selama mendatangkan kemanfaatan. Tugas kita, membuat pemaknaan dan kemanfaatan panggung kita sendiri.

Semoga bermanfaat..

Jabat Erat, Salam Hangat.

Tentang “Sudut Pandang”

Tulisan ini bisa jadi hasil dari belajar beberapa minggu kebelakang. Ya.. belajar dari perjalanan yang aku lewati, mulai dari mengisi acara disebuah lembaga, kejadian-kejadian yang aku alami, dan masih banyak lagi. Kenapa judulnya Tentang Sudut Pandang? Karena beberapa kejadian tersebut berkaitan dengan sebuah sudut pandang.

Tiap orang tentu punya sudut pandang masing-masing dalam memaknai sesuatu. Benar atau salah pun tergantung darimana kita melihat peristiwa tersebut. Maka kadang aku lebih memilih tidak ikut berkomentar pada sesuatu, karena bisa jadi komentarku bertentangan dengan apa yang dipikirkan orang lain. Bukan takut atau menghindari perdebatan, tapi lebih kepada untuk saling menghormati.

Aku coba ambil contoh saat mengisi sebuah acara di Temanggung tanggal 18 Juli 2016 lalu. Di acara ini aku diminta sharing ke orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Singkat cerita, setelah sharing dan membuka sesi tanya jawab ada seorang bapak yang mengajukan pertanyaan kepadaku. Pertanyaannya begini, “Terus, dari semua yang Mas Reza sampaikan apa gunanya buat kami? Saya juga motivator sekaligus dosen S1, S2 dan S3 di Undip lho mas. yang kami butuh di acara ini itu…”. Dhuuuar..!!! Dipikiranku pun langsung bergejolak. Sampai mikir dan berkata dalam hati, “Apa aku ada salah dalam penyampaian? Embel-embel motivator yang dipasang panitia apa terlalu berlebihan buat aku yang orang biasa ini?”. Tapi.. karena dunia panggung bukan dunia baru buatku, maka aku menanggapinya dengan tenang. Kujawab dengan pertanyaan, “Lalu menurut bapak siapa yang pantas ada disini? Kalau boleh saya bertanya juga, apakah bapak yang motivator ini sudah sangat kenal dengan anak bapak? Dan mohon maaf, saya bukan motivator kok.. saya disini cuma sharing tentang apa yang orang tua saya lakukan hingga saya bisa jadi seperti ini”. Bapak tadi pun terdiam, entah apa arti diamnya.

Berikutnya, ada seorang bapak lagi yang mengangkat tangan. Bukan untuk bertanya ternyata, tapi untuk memberi pernyataan. Beliau menyampaikan bahwa sangat setuju tentang apa yang aku sampaikan dan senang punya tambahan wawasan. Beberapa pernyataan serupa pun datang dari orang tua lain yang aku kira ingin bertanya. Yang paling membuat merinding adalah saat turun panggung ada seorang ibu yang menghampiriku dan berkata, “Terima kasih ya Mas Reza, saya merasa njenengan jawaban dari Tuhan atas doa saya”. Jawaban seperti apa? Akupun tak mempertegasnya karena melihat beliau begitu pun sudah cukup buatku. Biarlah jawaban tersebut menjadi rahasia.

Dari kejadian yang aku ceritakan diatas terlihat, ada dua sudut pandang orang tentang keberadaanku di acara tersebut. Kalau aku memandang penanya pertama tadi dengan emosi yang terlibat maka yang terjadi adalah kondisi perdebatan yang terjadi. Padahal tujuanku di acara tersebut adalah membuka wawasan orang tua tentang bagaimana memperlakukan anak berkebutuhan khusus. Maka, aku biarkan saya perbedaan sudut pandang terjadi dan aku memilih untuk tetap pada tujuanku.

Kejadian berikutnya adalah kehebohan yang terjadi di social media, mulai dari tentang seorang remaja bernama Karin hingga pergantian menteri oleh presiden. Ijinkan aku membahas satu per satu mulai dari tentang karin. Aku lumayan lama mengikuti perjalanan Karin, mulai dari ia menjadi selebritis instagram, snapchat, askfm hingga youtube. Berita tentang Karin menyebar saat video nya yang berisi kesedihan ketika diputuskan sang pacar. Orang berbondong-bondong mencari tahu dan menganalisa.

Seperti juga tentang pergantian menteri, banyak orang berbondong-bondong memburu berita dan menganalisa. Tentunya kedua berita diatas menuai pendapat positif dan negatif. Kembali lagi hal ini bicara tentang sudut pandang. Bagaimana seseorang menilai sebuah peristiwa.

Beberapa cerita diatas aku sampaikan sekali lagi bukan punya maksud menilai, tapi lebih kepada mengajak untuk bersama belajar. Belajar tentang apa? Belajar tentang melihat sesuatu dari berbagai macam sudut pandang sehingga tidak menjadi menghakimi sesuatu. Belajar tentang bagaimana menahan diri untuk menjadi terlihat paling, paling mengerti tentang sesuatu. Daripada kita sibuk menganalisa/menilai sesuatu yang dikerjakan orang lain, alangkah baiknya kita fokus pada apa yang sudah kita perbuat bagi diri kita dan kebaikan apa yang sudah kita lakukan bagi orang lain/lingkungan. Percayalah segala sesuatu itu pasti punya kebaikan..

Salam Bahagia dan Berkarya,

Mas Reza Aditia