Kegagalan Itu Cuma Persepsi

“Kegagalan akan menjadi kegagalan ketika diri kita gagal memberi makna atas sebuah kegagalan tersebut, sehingga kita gagal bangkit dari sebuah kegagalan”

Potongan kalimat diatas itu menggambarkan bagaimana diri kita menjadikan sebuah kegagalan menjadi gagal seutuhnya ketika kita hanya berhenti memberi makna peristiwa tersebut menjadi sesuatu yang dianggap gagal/tak berhasil.

Lalu, gagal itu apa?

Dari kamus besar bahasa Indonesia, gagal memiliki arti belum tercapai, belum berhasil, belum terwujud. Perhatikan baik-baik, kata ‘belum’ memiliki arti masih dalam keadaan yang tidak. Artinya, keadaan ini masih dapat kita perjuangkan atau usahakan lagi hingga mencapai atau mendapat apa yang kita inginkan.

Lantas persepsi itu apa?

Dari kamus besar bahasa Indonesia, persepsi memiliki arti tanggapan (penerimaan) terhadap sesuatu. Dari arti tersebut kita bisa berlogika, persepsi merupakan respon diri pada sesuatu, artinya makna dari sesuatu itu kita yang berikan.

Dari kedua arti diatas, dapat kita telaah bahwa kegagalan akan menjadi sesuatu yang utuh gagal apabila pemaknaan kita terhadap sesuatu tersebut berhenti hanya pada kejadian tersebut, bisa dikatakan tidak melanjutkan lagi perjalanan menuju sesuatu yang kita inginkan.

Pusing? Hihihi..

Gampangnya gini, kegagalan adalah respon dari proses yang kita lakukan untuk menuju sesuatu yang kita inginkan. Semestinya respon itu menjadi bahan evaluasi bagi kita untuk menentukan langkah berikutnya hingga mencapai tujuan yang kita inginkan. Dalam sebuah proses, tentu respon bisa muncul sekali, dua kali atau seterusnya. Disinilah pintar-pintarnya kita memberi makna dari respon tersebut dan mau membuka hati untuk mengoreksi apa-apa saja yang kurang pas dari yang telah kita lakukan.

So, untuk mencapai segala tujuan yang kita inginkan, gunakan logika. Manfaatkan rasa sebagai bumbu penyemangat. Semoga bermanfaat…

 

Jabat erat, salam hangat…

Panggung

Halo… akhirnya setelah sekian lama libur nulis blog pribadi, akhirnya ada waktu dan kesempatan buat nulis nih.. Semoga kedepan bisa lebih rutin nulis lagi. Hihihi… udah ah basa basinya, ntar jadi basi :p

Tulisan kali ini aku mau bahas soal panggung. Kenapa bahas panggung? Salah satunya karena beberapa waktu lalu dapet kesempatan sharing lagi setelah sekian lama ‘istirahat’.

Hmm… sebelum ceritanya kemana-mana, aku mau cerita dulu lah, mungkin ada yang udah tahu, mungkin juga ada yang belum. Jadi, awal aku punya kesempatan ‘naik panggung’ itu waktu jaman kuliah, jaman masih aktif di sebuah organisasi. Kebetulan organisasi lagi mau mengadakan seminar, tema yang diangkat sama dengan apa yang sedang aku pelajari saat itu, tepatnya tentang internet marketing. Bisa dibilang modal nekat waktu itu, karena pengisi acara utamanya adalah orang yang jauh lebih berpengalaman. Yang ada dipikiranku waktu itu, dengan menjadi pengisi acara tentu aku mesti belajar lebih. Berikutnya, dengan begitu aku dapat lebih dekat dengan pengisi acara yang lain, ini kesempatanku untuk bertanya dan menyerap ilmu mereka. Panggung pertama pun berhasil, rasa senang berbagi pun mulai muncul.

Setelah itu, rasa senang ketika sharing pun makin besar. Seiring aku terus belajar, kesempatan untuk panggung-panggung berikutnya pula berdatangan. Kesempatan ini tentu aku ambil, ini kesempatan untuk aku memaksa diri terus belajar dan semakin banyak melihat wajah-wajah senang telah mempelajari sesuatu baru dari yang aku sampaikan. Hingga aku pribadi punya makna sendiri terhadap panggung, ia adalah ruang dimana aku dapat berbagi apa yang aku tahu, diruang itu pula aku mendapat kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan uang. Ini pula yang membuat kesempatan berbagi meski tak mendapat ‘bayaran’ sering kuterima.

Dari panggung, aku pun punya ruang menyampaikan gagasan-gagasan yang ada dipikiranku. Bahkan keresahan terhadap sebuah kondisi, pesan untuk kebaikan sering aku sematkan di tiap kesempatan sharing. Dari banyak orang pun aku belajar, semua orang butuh panggung. Bukan panggung sebagai media memperoleh ketenaran atau kepopuleran, namun lebih kepada panggung untuk mendapat ruang. Ruang ini tentu berbeda-beda bagi tiap orang, ini yang aku yakini. Seperti pula dengan tujuan orang untuk mendapat panggungnya, maka naif bila ada yang menyamakan tujuan tiap orang.

Aku pribadi memilih tidak sibuk menilai orang lain dengan panggung orang lain. Biarkan saja mereka dengan tujuan masing-masing, selama mendatangkan kemanfaatan. Tugas kita, membuat pemaknaan dan kemanfaatan panggung kita sendiri.

Semoga bermanfaat..

Jabat Erat, Salam Hangat.