Hadapi atau Berada Pada Keadaan Tak Pasti

Mengalami situasi yang tidak nyaman atau tak diinginkan, ini hal yang sangat tidak disuka seseorang. Tepat seperti apa yang aku alami Sabtu pagi lalu. Pertanda itu sepertinya sudah ada sejak beberapa hari sebelumnya. Setelah meeting pagi seperti biasa kuhidupkan laptop kesayangan yang merupakan teman kerjaku beberapa tahun terakhir. Bisa bayangkan betapa dekatnya aku dengan benda ini dan bisa dirasakan betapa cintanya aku padanya ketika kalian tahu laptop ini tak pernah lepas dari sisiku. “Click” kutekan tombol powernya dan kutunggu beberapa saat layarnya menyala sembari mengecek notifikasi di HPku. Hampir 10 menit namun layar tak kunjung menyala. “Deg… Kenapa laptop ini? Kok gak seperti biasanya?”, tanyaku dalam hati. Kucoba beberapa kali dan akhirnya bisa menyalaa, entah  bagaimana bisa karena yang kulakukan hanya mencoba menghidupkannya. Pagi itu tak lama aku bercengkrama dengan laptopku karena ada kegiatan lainnya.

Setelah kegiatan usai dan pikiran sudah agak longgar, aku pun teringat ada yang mesti aku email. Kuambil laptop dalam tas dah kuhidupkan seperti biasa. Kejadian tadi pagi pun terulang kembali, si laptop tak mau menyala. Beberapa kali kucoba akhirnya mau menyala. Setelah email terkirim aku mencoba shutdown laptop dan menyalakannya kembali. Hasilnya tak mau menyala juga mesti kucoba berkali-kali. Kuputuskan berhenti mencoba dan berencana membawanya ke tukang service besok.

Pagi tiba.. saat buka mata pun masih terpikir bagaimana nasib laptopku yang tak mau nyala. Ada rasa deg-deg an membawanya ketukang service. Rasa enggan mendengar sesuatu yang buruk terjadi pada laptopku. Cukup lama bergejolak dalam hati. Sarapan, nonton tv, dan mandi pun masih terpikir. Seperti lelah dengan rasa itu, aku pun bicara dalam hati. “Kalo gak tau sebabnya gak mau nyala dan aku diamkan saja, terus kalo ada kendala pas kerja gimana. Kalo gak tau sebabnya, nyari solusinya gimana?”, diskusiku dalam hati.

Berangkatlah ke tukang service laptop, deg-deg an masih ada namun tak seperti paginya. Sesampainya ditempat service, laptopku dicek. Dan.. ia mau menyala. “Lho.. kok bisa?”, dalam hati aku berkata sambil menatap si mbak yang lagi ngecek laptopku. “Coba lagi mbak, biasanya ntar kumat lagi”, kataku ke si mbak yang ngecek laptopku. Benar… laptopku gak mau nyala lagi. “Lha to…”, dalam hati aku ngomong gitu. Si mas tukang service mengambil alih laptopku dari si mbak yang ngecek tadi. Dibongkarnya dan dibersihin beberapa komponen didalamnya. Laptopku kembali dicoba untuk dinyalaan oleh si mas dan ternyata bisa. Buat lebih memantapkan lagi, beberapa kali dicoba hidupin dan nyalain lagi. Nah.. setelah beberapa kali nyoba, kumat lagi. Si mas kembali ngecek dan beberapa saat akhirnya laptopku dinyataka VGA nya rusak atau gejala hampir rusak. Jadi… ya udah dapet jawaban dan waaktunya mikir solusinya gimana.

Dapet pelajaran lagi untuk lebih baik menghadapi daripada berada dalam situasi atau kondisi yang tidak pasti sehingga menduga-duga apa yang terjadi tanpa tau solusi.

Tentang Mengerti, Guyup dan Saling Mengasihi

Malam ini, entah mengapa mata tak kunjung mau terpejam. Browsing, membaca pun sudah kulakukan sebagai ritual penghantar tidur setiap hari. Berputar banyak kejadian di minggu ini, mulai dari ramainya berita tentang bangsa ini yang beredar hingga keramaian yang terjadi di media sosial. Semua berkaitan, semua berhubungan. Ada yang asyik menikmati keadaan, ada yang kesal karena bosan mendengar atau membaca semua itu yang beredar.

Sedang aku, memilih untuk tak ikut berkomentar karena itu semua bukan urusanku. “Urusanku masih banyak, masih banyak saudaraku yang butuh kubantu dibanding mengurusi hal yang tak ada untungnya buatku”, benakku berkata. Buka maksud egois tapi ini lebih kepada pilihan, pilihan untuk fokus pada diri dan pada orang terdekatku. Semua butuh proses untuk mengerti, bahkan mengerti bagaimana memilih sesuatu. Butuh komunikasi pada diri untuk berdamai dan tak ikut arus yang ada.

Guyup, seperti terlupa. Namun, beruntungnya aku berada dilingkungan yang kesehariannya penuh rasa ini. Rasa saling melengkapi, rasa saling melindungi, dan rasa-rasa lainnya untuk kebersamaan. “Apa mulai tak ada rindu pada guyup ini?”, benakku sering bertanya ketika melintas berita keributan yang terjadi. Mungkin lupa sebuah rasa guyup, atau ingin menjadi yang paling? Mungkin ini jawabannya, mungkin juga hal yang lainnya yang menjadi jawabannya.

Perdebatan, pertengkaran, atau keributan yang lain adalah gambaran minimnya rasa saling mengasihi. Rasa yang sejak entah kapan diajarkan. Namun ini adalah rasa yang paling menyenangkan, rasa yang paling banyak dicari. Saling mengasihi mungkin bisa menjadi obat, obat dari banyak kebencian yang beredar, obat dari saling menghancurkan yang makin marak, mungkin…