Akhirnya Punya KTP Bertanda Tangan

Selasa tanggal 14 Juni 2016 jadi hari yang cukup menyenangkan. Kenapa? KTP ku yang sudah sekian lama gak ada tanda tangannya akhirnya terganti dengan yang baru. Pastinya ada tanda tangannya, baru loh.. Hehehe

Tulisan kali ini bukan cuma cerita tentang KTP ku yang jadi ada tanda tangannya, tapi pengalaman ngurus penggantiannya juga. Mulai dari minta surat pengantar RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan berakhir dikantor catatan sipil. Mau cerita juga sih bagaimana kondisi kantor layanan masyarakat itu, baik fasilitasnya maupun orang-orangnya.

Mulai dari minta surat pengantar RT dan RW nih.. Aku minta surat pengantar dari RT dan RW itu hari Sabtu nya tanggal 11 Juni. Kenapa aku minta surat pengantar dulu? Pikirku sih kalo langsung kelurahan atau kecamatan ternyata diminta surat pengantar RT dan RW aku mesti ngulangi proses. Yawes.. diurus saja, ini juga pengalaman pertama ngurus ginian. Kalo bolak-balik malah jadi males ngurus lagi.

Bermodal surat pengantar RT dan RW hari Selasa tanggal 14 Juni aku menuju kelurahan. Begitu sampai kesan yang aku lihat pertama bangunannya. Hmm.. sudah lebih bagus dan yang bikin cukup tambah seneng adalah sudah ada akses jalan khusus untuk kursi roda. Dari fasilitas aman lah ya.. Lanjut ke petugas kelurahannya. Pas aku dateng mereka yang awalnya nyantai-nyantai kayak dipantai dikursi tamu langsung memposisikan diri di bagian masing-masing. Seorang petugas wanita menyapa, “Mas, ada keperluan apa?”. Langsung aku jawab, “Mau ngurus penggantian KTP bu”. Petugas itu segera mempersilahkanku kebagian KTP. Sedikit ditanya-tanya, surat pengantar pun dibuatkan. Yang bikin geli adalah, tiba-tiba seorang petugas dari meja sebelah kiri nanya, “Buat apa sih mas KTPnya diurus biar ada tanda tangannya? Lha wong kalo urusan sama bank kan bisa nunjukin ATM”. Dalam hati ketawa ngakak, karena sebelunya udah aku jelasin ke petugas KTP kelurahan kalo aku ngurus ini karena beberapa kali kesulitan kalo urusan dengan bank. Dan aku baru tahu setelah ngeliat struktur organisasi kelurahan, bapak petugas yang nanya tadi adalah Sekretaris Kelurahan. Hahahaha… yawes lah.. Surat pengantar pun jadi, aku segera lanjut. Pas mau keluar kantor kelurahan, seorang petugas yang dideket pintu manggil sambil nanya “Mas, keahlianmu apa? Catur bisa? Tenis Meja?”. Rada kaget plus bingung jawabnya, tapi tak jawab “Kerjaan saya web developer pak, jadi keahlian saya bikin website”. Bapak petugas tadi pun manggut-manggut, entah paham maksudku atau tidak, yang jelas setelah itu dia minta nomor HP ku sambil bilang “Mas, mengko tak undang ya.. Aku ketua motor roda 3 Jawa Tengah”. Aku jawab dengan senyum aja, terus lanjut keluar.

Tujuan berikutnya adalah kantor kecamatan. Begitu nyampe aku langsung ke bagian informasi buat tanya prosedurnya gimana. Diarahkan ke gedung bagian kependudukan. Sampe disana, aku langsung ambil nomor antrian. Tiba giliran langsung ngomong maksud dan tujuanku ke petugas. Dapet jawaban yang cukup asyik bin wagu sih menurutku, “Mas, njenengan langsung saja ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jl. Kanguru. Disini kita ndak ada alatnya.” Pas aku nengok padahal ada lho alatnya, jadi mikir ini gak bisa atau apa nih. Oya, untuk akses gedung kecamatan ini juga sudah ada jalur khusus buat kursi roda. Lumayan lah…

Setelah perjalanan beberapa saat dan sempat nanya akhirnya aku sampai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Fasilitas gedungnya sama kayak kelurahan dan kecamatan tadi plus sudah disediakan kursi roda buat yang butuh. Begitu masuk ternyata antriannya WOW.. Dan setelah menunggu tiba giliranku, kujelaskan maksud dan tujuanku ke petugas. Jawaban yang aku terima adalah “Mas langsung ke resepsionis aja, bilang minta ketemu Bu Wulan”. Sudah mulai ngerasa kok muter-muter ya, tapi ya sudah lah. Pas nanya resepsionis ternyata ruang Bu Wulan ada diatas, petugas minta adekku saja yang naik dan menemui Bu Wulan. Setelah nunggu hampir 10 menit, adekku turun dan ngomong, “Kudu munggah, komputere ning nduwur”. Waduh… Tapi ya sudah kami putuskan tetap naik meski lumayan tinggi. Begitu sampe dilantai 2, proses segera dimulai. Dan… BOOM!! Gak sampe 15 menit KTP ku sudah jadi dan bertanda tangan. Selama proses 15 menit tadi aku beberapa kali diminta tanda tangan karena hasilnya kurang bagus dan gak mirip tanda tangan asliku. Yang paling bikin aku geli di kantor ini adalah pas mau pulang ada seorang bapak-bapak pegawai kantor itu yang berkata, “Wah.. Iki PR ki.. kudune akses dibawah kita buka besok-besok”. Dalam hati aku ngomong, “Kok yo gak dari dulu to pak.. pak.. disiapke aksesnya. Toh yo kantor seperti ini asal jalur akses database nya dibuka kan ya bisa diakses dari bawah”. Tapi yawes.. Yang penting KTP ku sudah jadi.

Pelajarannya adalah di kota kita tercinta ini sosialisasi berbagai program dan bagaimana mengurus sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan masih sangat minim. Petugas layanan publik atau masyarakatnya butuh disiapkan lagi.

Salam Bahagia dan Berkarya,

Mas Reza Aditia

Du Cafe Semarang 1

Du Cafe Semarang, Tampilannya Wow, Makanannya…

Du Cafe, Angkringan.. Kopi.. Galeri.. Cafe baru yang bertempat di Jl. Durian *kalo gak salah* (Deket Pintu Keluar Tol Banyumanik) ini terlihat sangat menarik bila dilihat dari luar. Seperti biasanya di Semarang, cafe baru selalu ramai pengunjung.

Du Cafe Semarang 4Sejujurnya rasa penasaran yang membuat aku datang ke cafe ini. Salah satu hal yang menarik adalah jejeran mobil klasik yang dipajang dalam cafe ini. Benar saja, begitu sampai disana dan masuk aku langsung disuguhi “surga”. Mobil klasik nan mulus yang dipajang sungguh mempesona. Pengunjung bisa menikmati hidangan sambil memanjakan mata nih… Pas banget buat kamu yang suka sama mobil klasik plus hobi nongkrong datang kesini. Ada beberapa barisan kursi yang ditata dekat dengan mobil-mobil yang dipajang. Ide yang bagus sih…

Puas melihat jejeran mobil ini, aku mencari tempat duduk yang nyaman. Berhubung hari itu lumayan rame, aku pilih duduk di taman belakang. Suasananya gak kalah sih sama yang didalem. Nuansa taman dengan rumput hijau akan kita dapetin kalo milih duduk ditaman belakang ini. Pas banget buat yang mau romantis-romantisan. Hehe..

Bagian paling hmm… hmmm.. adalah saat pesen makanan. Setelah duduk, mbak-mbak pelayan pun menghampiri. Langsung aku tanya, “mbak, menu paling spesial ditempat ini apa?”. Si mbak pun segera menjawab, “Tenderloin Steak mas.. Kalo mau makanan angkringan juga bisa ambil sendiri didalam”. Ya udah.. aku kuptuskan untuk pesan menu yang ‘katanya’ paling spesial ditempat ini. Kami datang berempat.. aku, Yori, Agung dan Nanda. Yori mencoba nasi bungkus angkringan, sedang yang lain memutuskan pesan minuman dulu dan akan pesan setelah lihat makananku dan Yori.

Du Cafe Semarang 5Oke.. makanan akhirnya datang. Tentu Yori bisa mencoba makanannya duluan karena dia makan nasi bungkus angkringan. Begitu nyampe dimeja dia bilang, “aku pesen steak juga og, menu angkringannya udah tinggal dikit dan kurang semangat. Gak berapa lama makananku pun datang. Dan… Boom!! Tenderloin Steak nya diluar bayanganku, ya.. dagingnya kecil, sayur dan kentangnya seperti ala kadarnya. Kalo daging yang kecil sih masih bisa ditolerir sih.. harganya 25ribuan ini. Pas nyobain makan, BOOM!! Rasanya.. sampe gak bisa ngomong lah.. Kira-kira kayak daging dikasih garem plus minyak terus di grill. Karna terlalu kaget dengan rasa dari cafe yang tampilannya keren ini jadi kelupaan foto deh.. Yang aku pajang ini steak pesenan Yori. Btw, liat makanan yang datang Agung dan Nanda gak jadi pesen.

Kesimpulan : Tempat yang bagus dan ramai itu belum tentu makananya enak. Semoga Du Cafe bisa memperbaikinya segera.

Salam Bahagia dan Berkarya,

Mas Reza Aditia

Tak Perlu Terburu Menjadi “Tokoh”

Menjadi “Tokoh” siapa yang tak ingin? Menjadi sosok yang dihormati, disegani dan didengar omongannya adalah idaman hampir semua orang.

Bisa jadi judul diatas menggelitik beberapa orang. Bisa jadi ada yang mengatakan, “apa iya situ juga gak kepengen jadi tokoh?”. Ada pula yang mungkin akan mengatakan, “ah.. pencitraan nih, situ kan udah jadi tokoh”. Dan pastinya banyak lagi komentar yang terlontar. Ya.. sudah, biarlah komentar berdatangan karena itu hak setiap orang dan aku pribadi sangat menghormati hak tersebut.

Dari judul diatas yang ingin aku bahas adalah bagaimana seseorang mau dan mampu berkarya tanpa embel-embel ingin menjadi orang yang “paling”. Apa yang kuutarakan bukan tanpa alasan atau opini belaka, semua pernah kualami, pernah kujalani. Maka dari itu aku ingin membagi pengalaman.

Saat ini banyak sekali seseorang diusia muda yang bisa dibilang telah meraih kesuksesan. Siapa yang tak ingin sukses? Tentu semua ingin. Tapi bagaimana menjadi sukses atau menduplikasi cara-cara mereka meraih kesuksesan? Salah satunya menurutku adalah tak terburu ingin menjadi “tokoh”. Setiap proses belajar tentu menginginkan sebuah pencapaian dan sebuah pencapaian menginginkan penghargaan. Mengikhlaskan untuk tidak cepat mendapat penghargaan inilah yang butuh energi cukup besar. Ada pententangan dalam diri pastinya. Mungkin dalam hati kita akan berkata, “aku kan sudah berusaha keras, ber hak dong mendapat penghargaan atas apa yang aku capai”.

Dari banyak orang hebat yang aku temui, hampir semua dari mereka membalik logika tersebut. Banyak dari mereka berkata, “berkarya saja dan terus berkarya, ketika karya kita dirasa bermanfaat bagi orang lain pasti mereka akan punya penilaian sendiri dan biarkan mereka menilai sesuka mereka. Waktu yang akan membuktikan”. Disini aku belajar bagaimana melakukan sesuatu itu tidak segaja untuk mendapat sesuatu  atau membentuk sesuatu. Karakter kaya juga terbentuk dengan sendirinya karena kita tidak mengharap “diberi” sebuah label atau penghargaan. Yang kupelajari, ketika kita ingin menjadi kaya ya punyalah karakter kaya. Bukan hanya kaya secara materii namun juga kaya secara keseluruhan.

Terlalu banyak mendapat pujian atau penghargaan akan membawa kita pada zona yang terlalu terang. Terlalu gelap mungkin tak cukup membutakan kita, namun terlalu terang pasti akan membutakan kita.

Salam Bahagia dan Berkarya,

Mas Reza Aditia